"Selamat Datang diblog kami | Ayo Sukseskan Pemilihan Bupati Sumenep | 9 Desember 2015"

Rabu, 05 Juni 2013

Strategi PDI Perjuangan Menangkan Pemilu 2014

BERITASATU.COM Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mempunyai cara tersendiri dalam mencalonkan kepala daerah yang akan bertarung pada pemilihan kepala daerah (pilkada). Tengok saja pilkada Jawa Tengah (Jateng). Bukannya mengusung incumbent Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Rustriningsih, tokoh yang dianggap dapat menyaingi Gubernur incumbent, Bibit Waluyo, PDIP malah menyodorkan Ganjar Pranowo.

Ganjar yang merupakan anggota DPR dari Fraksi PDIP sempat diragukan bisa merebut kemenangan. Faktanya, berdasarkan quick count sejumlah lembaga survey, Ganjar yang berpasangan dengan Heru Sudjatmoko menang dengan persentase 47%.


Pilihan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terhadap Ganjar-Heru, tepat. Meskipun sebagian kalangan menilai wajar. Sebab, Jateng merupakan basis PDIP atau sering disebut “kandang banteng”.

Kemenangan PDIP pada pilkada Jateng sangat penting menjelang Pemilu 2014. Mengacu data Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada pemilu 2009, jumlah pemilih seluruh Indonesia 171.265.442 jiwa. Mayoritas pemilih berada di pulau Jawa yakni sebesar 102.543.365 jiwa. Jateng sendiri menduduki urutan ketiga terbanyak (26.190.629) setelah Jawa Timur (29.514.290) dan Jawa Barat (29.002.479).

Sampai saat ini, PDIP sukses menempatkan kadernya sebagai gubernur di propinsi DKI Jakarta (Joko Widodo) dan Jateng (Ganjar Pranowo). Sementara di Banten, PDIP hanya memperoleh kursi wagub yakni Rano Karno. Pulau Jawa tinggal menyisakan pilkada di Jawa Timur (Jatim). Di ujung timur pulau Jawa ini, PDIP mengusung Bambang DH dan Said Abdullah. Padahal kalau PDIP berpikir pragmatis, bisa saja menerima pinangan Khofifah yang berpeluang mencuri kemenangan dari pasangan incumbent Pakde Karwo dan Gus Ipul.

PDIP memang mengalami kekalahan pada pilkada Sumatera Utara (Sumut), Jawa Barat (Jabar) dan Bali. Namun, PDIP secara gerilya ternyata menjalankan misi tertentu. Figur manapun yang dicalonkan bukan hal penting. Tampaknya PDIP ingin menyatukan suara para konstituen di daerah-daerah. Kekalahan pada pilkada, seolah-olah menambah kematangan dan militansi kontituen.

Di Jabar, pada pemilu 2009, PDIP hanya mendapatkan 16%. Sementara calon gubernur (cagub) Rieke Dyah Pitaloka diusung sendiri oleh PDIP sanggup meraih 28%. Di Sumut, PDIP mendapat 17% (pemilu 2009), tapi Effendy Simbolon (cagub PDIP) mendapat 27%. Artinya, PDIP sudah menghitung dengan matang. Jika rata-rata daerah PDIP meraup 20%, maka hasil itu bisa mendongkrak suara pada pemilu 2014 mendatang.

“PDIP mempunyai signal positif. Hasil pemilu 2009 jika dibandingkan perolehan pilkada, menunjukkan soliditas kader partai,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Tjahjo Kumolo kepada SP di Jakarta, Rabu (5/6).

Secara jujur dia mengakui bahwa PDIP memang kalah di beberapa pilkada. Namun, calon kepala daerah yang diusung PDIP ternyata mendapat dukungan masyarakat luas. “Di Jabar dan Sumut memang kami kalah, tapi pasangan PDIP dapat peringkat suara terbanyak kedua, bahkan nyaris menang melawan gubernur incumbent,” tuturnya.

Dia menambahkan, PDIP belajar dari pengalaman pilkada-pilkada sebelumnya. “Dasar pengalaman yang lalu dengan mudah kita mencalonkan orang lain. Saat ini, sepanjang suara PDIP cukup dan tidak perlu koalisi, maka kami coba dukung kader sendiri. Kecuali suara PDIP kurang dan harus koalisi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Marurar Sirait menyatakan, dalam menetapkan calon kepala daerah, PDIP tentu mendengarkan suara rakyat. Karena itulah, pria yang akrab dipanggil Ara ini yakin PDIP dapat meraih hasil maksimal pada pemilu 2014. “PDIP pasti dengarkan suara rakyat. 2014 nanti sudah wakutnya PDIP berhenti jadi partai oposisi, caranya adalah dengan memenangkan pemilu dan dengarkan suara serta harapan rakyat,” kata Ara.

Penulis: C-6/AF

0 komentar:

Posting Komentar